Scroll untuk melanjutkan membaca
PENDIDIKAN

Gus Muhlis Kupas Tuntas Hukumnya Tajdidun Nikah, Yuk Kita Lihat Penjelasannya

×

Gus Muhlis Kupas Tuntas Hukumnya Tajdidun Nikah, Yuk Kita Lihat Penjelasannya

Sebarkan artikel ini
Penulis : KH. Kholisol Muhlis, M.Pd.I, Dosen Pendidikan Agama Islam di Universitas Islam Madura.

PENDIDIKAN | jatimtrending.com – Nikah adalah Ikatan suci dua sejoli yang memadu cinta dan kasih sayang. Dengan nikah kebutuhan biologis dapat tersalurkan dengan baik dan halal namun sebaliknya cinta yang hanya didasari oleh nafsu tanpa ikatan pernikahan berbuah maksiat dan dosa.

Banyak orang yang menikah dengan tujuan yang baik namun kadang-kadang berakhir dengan perceraian. Perceraian adalah sesuatu yang halal tetapi dibenci oleh Allah SWT.

Scroll untuk melanjutkan membaca
Scroll untuk melanjutkan membaca

إِنَّ أَبْغَضَ الْحَلَالِ إِلَى اللَّهُ الطَّلَاقُ

“Sesungguhnya sesuatu yang halal yang paling dibenci oleh Allah adalah perceraian.” (HR Abu Dawud)

Baca Juga  Sifat Hasad Dengki Yang Perlu Kalian Ketahui dan Buang Jauh-jauh Dalam Hati

Ada cara yang dapat dilakukan ketika pernikahan seseorang rusak agar bisa kembali halal dalam berhubungan seksual.

Apa itu? yaitu Tajdidun Nikah.

Tajdidun Nikah atau yang lebih dikenal dengan memperbaharui pernikahan banyak dilakukan oleh orang-orang yang sedang melakukan perjalanan haji atau umroh dan Tajdidun nikahnya berlangsung di masjid Nabawi Madinah atau masjidil Haram Makkah dengan harapan sebagai Tabarrukan atau ingin mendapatkan barokah dari pernikahannya.

Pertanyaannya adalah bagaimana sebenarnya hukum Tajdidun nikah dalam Islam?

Jawabannya adalah sebagai berikut :

1.Tajdidun nikah (memperbaharui nikah tanpa terjadinya cerai) adalah boleh, jika bertujuan untuk memperindah atau ihtiyat dan tidak termasuk pengakuan talak (tidak wajib membayar mahar).

Baca Juga  Berkat Kerjasama Bupati Sampang dan Tim RSMZ, Rumah Sakit dr. Mohammad Zyn Masuk 10 Besar Proyek Investasi Terbaik di Jawa Timur 2023

Dasar hukumnya adalah kitab At-Tuhfah, Juz VII, Hlm. 391

أَنَّ مُجَرَّدَ مُوَافَقَةِ الزَّوْجِ عَلَى صُورَةِ عَقْدٍ ثَانٍ مَثَلاً لاَ يَكُونُ اعْتِرَافًا بِانْقِضَاءِ الْعِصْمَةِ اْلأُولَى بَلْ وَلاَ كِنَايَةَ فِيهِ وَهُوَ ظَاهِرٌ إِلَى أَنْ قَالَ وَمَا هُنَا فِي مُجَرَّدِ طَلَبٍ مِنْ الزَّوْجِ لِتَجَمُّلٍ أَوْ احْتِيَاطٍ فَتَأَمَّلْهُ.

“Sesungguhnya persetujuan murni suami atas aqad nikah yang kedua (memperbarui nikah) bukan merupakan pengakuan habisnya tanggung jawab atas nikah yang pertama, dan juga bukan merupakan kinayah dari pengakuan tadi. Sedangkan apa yang dilakukan suami di sini (dalam memperbarui nikah) semata-mata untuk memperindah atau berhati-hati.”

Baca Juga  Tingkatkan Soft Skill Siswa, SMK Bina Husada Terapkan Praktek Lapangan Langsung ke Masyarakat di Desa Bunder, Pademawu, Pamekasan

2.  Akan tetapi menurut imam Yusuf al-Ardabili dalam kitab al-Anwar wajib membayar mahar karena sebagai pengakuan jatuhnya talak.

Dasar Hukumnya adalah kitab Al-Anwar, Juz II, Hlm. 156

وَلَوْ جَدَّدَ رَجُلٌ نِكَاحَ زَوْجَتِهِ لَزِمَهُ مَهْرٌ آخَرُ ِلأَنَّهُ إِقْرَارٌ بِالْفُرْقَةِ وَيَنْتَقِضُ بِهِ الطَّلاَقُ وَيَحْتَاجُ إِلَى التَّحْلِيْلِ فِى الْمَرَّةِ الثَّالِثَةِ.

“Jika seorang suami memperbaharui nikah kepada isterinya, maka wajib memberi mahar (mas kawin), karena ia mengakui perceraian dan memperbaharui nikah termasuk mengurangi (hitungan) cerai/talaq. Kalau dilakukan sampai tiga kali, maka diperlukan muhallil.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

PENDIDIKAN

PENDIDIKAN| jatimtrending.com — Puasa Ramadan tahun 1445 Hijriyah ini mengandung makna tersendiri bagi kaum muslimin Indonesia. Betapa tidak puasa tahun ini bersamaan dengan momentum Pemilu tahun 2024 yang hingga kini…

PENDIDIKAN

POLITIK | jatimtrending.com – Peran Ulama maupun para Habaib yang menjadi tim pendukung pasangan Capres-Cawapres dalam pemilu  tahun 2024 ini ternyata tidak efektif dalam upaya menciptakan pemilu yang berkualitas. Pemilu …